Sabtu, 14 Maret 2015



“SAYA TIDAK  TAHU”, JAWABAN LUMRAH BAGI SISWA
Oleh : Drs. Matheus Jemalu
Kepala SMP Negeri 3 Komodo Manggarai Barat


Pengalaman ini sungguh  lucu dan mengherankan. Siswa membanting kursi  di kelas, ribut dalam kelas, ketika ditanya tak satu siswa pun mengakuinya. “ Saya tidak tahu “ itu jawaban biasa dikalangan siswa, jawaban yang mudah dan sudah baku keluar  dari mulut siswa. Menurut pandangan mereka, rumusan jawaban yang baku itu akan lebih ampuh terhindar dari sanksi dan rasa malu. Bahkan tertangkap basah pun masih mempunyai keberanian untuk menjawab “saya tidak tahu “ dengan ekspresi wajah terheran –heran . Rumusan yang menyelamatkan! Jawaban yang sama juga terjadi bila kedapatan sedang melempar buah-buahan orang. Ditanya secara perorangan saja sulit jujur apalagi seacara masal dalam satu kelompok besar. Temannya yang lain yang sekelompok beraksi pun dengan mudah tanpa beban akan menjawab “ saya tidak tahu “. Semua siswa memberikan kesan seolah olah sama sekali tidak mengerti akan pertanyaan itu. Saya sempat heran  akan keheranan mereka terhadap hal yang sebetulnya benar dilakukan.
Coba dicermati, mengapa jawaban seperti itu selalu muncul dari mulut siswa. Jawaban klasik itu muncul karena siswa ditanyai. Seandainya tidak ditanyai pada saat tertangkap basah dengan langsung memanggil dan memberikan sanksi ia menjadi siswa penurut karena  ia mengerti atas sanksi yang diterima atas kesalahan  atau pelanggarannya. Kesalahan dan  pelanggaran menurut siswa  tidak boleh dibeberkan karena dia sudah tahun itu. Ketika ditanya, ia akan membelot dengan jawaban “ saya tidak tahu “. Semakin ditanyai semakin  ia berusaha untuk meluputkan diri  dari kesalahan dan pelanggarannya. Ia berjuang untuk menang terhadap sipenanya walaupun penanya menginginkan kejujurannya. Menurut pandangan mereka, dengan bertanya penanya tidak punya pengetahuan apa pun tentang perbuatannya.
     Pertanyaan yang mungkin  sudah terumus dalam benak setiap siswa: “Mengapa harus bertanya? Untuk apa ditanya lagi kalau memang sudah tertangkap  basah? Sudah tahu sendiri masih mau bertanya”. Trik yang keliru bahwa dengan bertanya berarti  siap menerima jawaban yang sudah baku “saya tidak tahu” dengan ekspresi wajah berkerut dan terheran –heran.
Cara lain yang juga tepat adalah langsung memanggil dan meminta pertanggung jawabannya dalam sebuah ruang  yang sedikit jauh dari penglihatan teman-temannya. Dengan sangat jujur siswa tersebut mulai mengklarifikasi perbuatannya dengan lebih detail. Setelah itu siswa dimaksud diberikan sanksi dan dengan penuh kerelaan ia menerima  dan melaksanakannya tanpa keberatan.
Untuk siswa,,kejujuran itu sesuatu yang berat dan memalukan apalagi harus mengakuinya di depan orang lain. Mengakui yang benar saja masih ragu-ragu bahkan tidak berani apalagi yang keliru-salah. Maka kejujuran disembunyian. Siswa tidak berani bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Jujur diidentikan dengan  sanksi yang harus diterima sehingga  sangat sulit mengakui kesalahannya apalagi  harus di depan teman-temannya. Bersikap jujur berarti  menelanjangkan diri sendiri.
Banyak pengalaman membuktikan bahwa Pembina atau guru tidak perlu bertanya hal yang sudah jelas. Kepada seorang . Kepadea seorang siswa yang memanjat tembok saya menanyainya : Benarkah anda yang memanjat tembok tadi siang pada jam istirahat siang? Dengan penuh keheranan siswa itu menjawab’ tapi sya tidak melihat bapak”. Dia tetap bertahan  dengan jawaban yang sama itu.Sulit bagi siswa untuk menjawab ya saya melakukan itu, atau tidak, saya melakukan itu. Dengan jawaban semacam itu sebenarnay dia mengakui perbuatannya. Walaupun saya tetap meyakinkan dia bahwa yang saya tanyakan  itu menyangkut memanjat tembok atau tidak memanjat tembok tetapi dia bersikeras bahwa dia tidak melihat saya. Justru yang dijawab adalah menurut penglihatan dia. Seolah olah kalau dia tidak melihat  dengan mata sendiri berarti itu tidak benar. Termasuk apa yang dilihat orang lain juga tidak benar.
Berdasarkan pengalaman maka saya tidak menanyai namanya. Karena dalam situasi tertentu siswa tidak akan nmenyebutkan namanya yang sebenarnya. Dia akan menyembunyikan namanya dengan menyebutkan nama orang lain untuk dirinya. Apabila menanyai nama berarti siswalangsung berkesimpulan bahwa yang bertanya itu sama sekali tidak mengenalnya.
Dalam peristiwa seperti itu siswa belum mau menjadi dirinya yang sebenarnya paling kurang dengan namanya yang sesungguhnya. Siswa takut dikenali dan takut bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Sikap siswa semacam ini mewakili sebagian manusia bahwa yang unik pada manusia yakni yang jelek dan kurang baik dengan begitu mudah dialihkan  kepada orang lain. Yang kurang, yang jelek yang negative itu bukan dirinya. Manusia mencari yang paling aman dan paling baik untuk dirinya.
     Karena itu, untuk mendapatkan kejujuran siswa perlu disiasati dengan strategi khusus agar siswa bersikap jujur walaupun  tidak dengan kata kata. Siswa perorangan atau kelompok dipanggil langsung diajak bekerja bersama sama. Tidak hanya siswa tetapi juga Pembina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar