“SAYA
TIDAK TAHU”, JAWABAN LUMRAH BAGI SISWA
Oleh
: Drs. Matheus Jemalu
Kepala
SMP Negeri 3 Komodo Manggarai Barat
Pengalaman ini sungguh lucu dan mengherankan. Siswa membanting
kursi di kelas, ribut dalam kelas,
ketika ditanya tak satu siswa pun mengakuinya. “ Saya tidak tahu “ itu jawaban
biasa dikalangan siswa, jawaban yang mudah dan sudah baku keluar dari mulut siswa. Menurut pandangan mereka,
rumusan jawaban yang baku itu akan lebih ampuh terhindar dari sanksi dan rasa
malu. Bahkan tertangkap basah pun masih mempunyai keberanian untuk menjawab
“saya tidak tahu “ dengan ekspresi wajah terheran –heran . Rumusan yang
menyelamatkan! Jawaban yang sama juga terjadi bila kedapatan sedang melempar
buah-buahan orang. Ditanya secara perorangan saja sulit jujur apalagi seacara
masal dalam satu kelompok besar. Temannya yang lain yang sekelompok beraksi pun
dengan mudah tanpa beban akan menjawab “ saya tidak tahu “. Semua siswa
memberikan kesan seolah olah sama sekali tidak mengerti akan pertanyaan itu. Saya
sempat heran akan keheranan mereka
terhadap hal yang sebetulnya benar dilakukan.
Coba dicermati, mengapa jawaban seperti itu selalu
muncul dari mulut siswa. Jawaban klasik itu muncul karena siswa ditanyai.
Seandainya tidak ditanyai pada saat tertangkap basah dengan langsung memanggil
dan memberikan sanksi ia menjadi siswa penurut karena ia mengerti atas sanksi yang diterima atas
kesalahan atau pelanggarannya. Kesalahan
dan pelanggaran menurut siswa tidak boleh dibeberkan karena dia sudah tahun
itu. Ketika ditanya, ia akan membelot dengan jawaban “ saya tidak tahu “.
Semakin ditanyai semakin ia berusaha
untuk meluputkan diri dari kesalahan dan
pelanggarannya. Ia berjuang untuk menang terhadap sipenanya walaupun penanya
menginginkan kejujurannya. Menurut pandangan mereka, dengan bertanya penanya
tidak punya pengetahuan apa pun tentang perbuatannya.
Pertanyaan yang mungkin sudah terumus dalam benak setiap siswa:
“Mengapa harus bertanya? Untuk apa ditanya lagi kalau memang sudah tertangkap basah? Sudah tahu sendiri masih mau
bertanya”. Trik yang keliru bahwa dengan bertanya berarti siap menerima jawaban yang sudah baku “saya
tidak tahu” dengan ekspresi wajah berkerut dan terheran –heran.
Cara lain yang juga tepat adalah langsung memanggil
dan meminta pertanggung jawabannya dalam sebuah ruang yang sedikit jauh dari penglihatan
teman-temannya. Dengan sangat jujur siswa tersebut mulai mengklarifikasi
perbuatannya dengan lebih detail. Setelah itu siswa dimaksud diberikan sanksi
dan dengan penuh kerelaan ia menerima
dan melaksanakannya tanpa keberatan.
Untuk siswa,,kejujuran itu sesuatu yang berat dan
memalukan apalagi harus mengakuinya di depan orang lain. Mengakui yang benar
saja masih ragu-ragu bahkan tidak berani apalagi yang keliru-salah. Maka
kejujuran disembunyian. Siswa tidak berani bertanggung jawab terhadap
perbuatannya. Jujur diidentikan dengan
sanksi yang harus diterima sehingga
sangat sulit mengakui kesalahannya apalagi harus di depan teman-temannya. Bersikap jujur
berarti menelanjangkan diri sendiri.
Banyak pengalaman membuktikan bahwa Pembina atau
guru tidak perlu bertanya hal yang sudah jelas. Kepada seorang . Kepadea
seorang siswa yang memanjat tembok saya menanyainya : Benarkah anda yang
memanjat tembok tadi siang pada jam istirahat siang? Dengan penuh keheranan
siswa itu menjawab’ tapi sya tidak melihat bapak”. Dia tetap bertahan dengan jawaban yang sama itu.Sulit bagi siswa
untuk menjawab ya saya melakukan itu, atau tidak, saya melakukan itu. Dengan
jawaban semacam itu sebenarnay dia mengakui perbuatannya. Walaupun saya tetap
meyakinkan dia bahwa yang saya tanyakan
itu menyangkut memanjat tembok atau tidak memanjat tembok tetapi dia
bersikeras bahwa dia tidak melihat saya. Justru yang dijawab adalah menurut
penglihatan dia. Seolah olah kalau dia tidak melihat dengan mata sendiri berarti itu tidak benar.
Termasuk apa yang dilihat orang lain juga tidak benar.
Berdasarkan pengalaman maka saya tidak menanyai
namanya. Karena dalam situasi tertentu siswa tidak akan nmenyebutkan namanya
yang sebenarnya. Dia akan menyembunyikan namanya dengan menyebutkan nama orang
lain untuk dirinya. Apabila menanyai nama berarti siswalangsung berkesimpulan
bahwa yang bertanya itu sama sekali tidak mengenalnya.
Dalam peristiwa seperti itu siswa belum mau menjadi
dirinya yang sebenarnya paling kurang dengan namanya yang sesungguhnya. Siswa
takut dikenali dan takut bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Sikap
siswa semacam ini mewakili sebagian manusia bahwa yang unik pada manusia yakni
yang jelek dan kurang baik dengan begitu mudah dialihkan kepada orang lain. Yang kurang, yang jelek
yang negative itu bukan dirinya. Manusia mencari yang paling aman dan paling
baik untuk dirinya.
Karena itu, untuk mendapatkan kejujuran
siswa perlu disiasati dengan strategi khusus agar siswa bersikap jujur
walaupun tidak dengan kata kata. Siswa
perorangan atau kelompok dipanggil langsung diajak bekerja bersama sama. Tidak
hanya siswa tetapi juga Pembina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar