Senin, 23 Maret 2015

CERITA RAKYAT




COMPANG AGU WATU BALOK

Danong manga sua tau ata Sulawesi-Minangkabau ngasang na Ratemtaeng agu Lingmelodo. Pas wa’u wae tacik di’i sampang dise cupu utara beo Tureng. Mai nditu mai ise lako wa’i. Cai one reha salang cumang ata reba, agu ata reba hitu ga ise lako kaping selatan beo Tureng.
Cai nitu ise pande susun watu leo, itu tara mangan ngasang compang. Eta wewo compang hitu ise telu nempung tau pande candi pake haju lewe. Laing ca nempung hitu, jaong de kraeng reba “pande candi ho’o paka le wie, agu paka puli one mai 12 jam”.
Laing ca puli nempung pande dise ler taung haju lewe ga. Rehan ongko haju ga, denge ket le reba ho’o runing potttt... patttt.... mangkong diha ga manga ata hitung ise, rantang ge ko. Ca repa mata mesa ata reba ho’o ga.
Kari ca denge di’a runing cio de Lingmelodo. Laing ca mesa dia ko rantang kole ise Lingmelodo agu Rantemtaeng ga wear ise kole ga, toe laing jiri panden candi ga. Balok iwo kumpul dise situ jiri watu si ko. Itu ter mangan watu balok.

Terjemahan:
Pada zaman dahulu ada dua orang yang berlayar dari Sulawesi-Minangkabau yang bernama Rantemtaeng dan Lingmelodo. Setibanya di pantai utara kampung Tureng, karamlah kapal mereka. Dari situlah mereka berjalan. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang pemuda dan bersama pemuda itu berjalan menuju sebelah selatan kampung Tureng.
Saat mereka tiba di suatu tempat di sebelah selatan kampung Tureng, mereka menyusun batu menyerupai tugu (punden berundak-undak) yang dalam bahasa Manggarai disebut Compang. Di atas compang tersebut mereka bermusyawarah untuk membuat sebuah candi yang terbuat dari kayu balok. Di saat mereka bermusyawarah, sang pemuda berkata “candi itu harus dibangun pada malam hari dan dibangun dalam tempo 12 jam”.
Setelah selesai bermusyawarah, mereka mulai bekerja mengumpulkan untuk mengumpulkan kayu balok. Disaat bekerja, sang pemuda mendengar suara pottttt... pattttt.... dalam benaknya, dia berpikir ada orang lain selain mereka bertiga yang sedang menghitung. Hal tersebut membuat sang pemuda takut dan lari meninggalkan pekerjaan itu.
Ternyata suara yang didengar sang pemuda berasal dari tetesan air kencing Lingmelodo. Karena sang pemuda menghilang, Ratemtaeng dan Lingmelodo pun merasa takut, sehingga mereka lari meninggalkan pekerjaan tersebut.
Balok yang telah mereka kumpul tersebut, sekarang telah menjadi batu. Sehingga disebut batu balok.



Nama: Arif Rahman
SMP Negeri 3 Komodo
Kabupaten Manggarai Barat








RAJA BIMA

Danong manga mose sua tau empo ata wina rona, ngasang ra empo Nggaro agu empo Boke. Tau kawe mose ra, Empo Nggaro mo ndala one wae neteng wie. Ca wie, empo Nggaro mo ndala, landing toe manga ngaeng nakeng, ngaeng cala wua haju. oke kole liha wua haju hitu. Wie te suan, ngo ndala kole empo Nggaro, landing ngaeng kole wua haju ata oke liha one meseng wie, wua haju hitu oke kole liha. Wie te telun toe kole ngaeng nakeng, ngaeng kole wua haju hitu. Woko toe tara ngaeng nakeng, mai hia ga ala wua haju ho’o wa one sekang, wua haju ho’o, mai empo Nggaro ho’o ga na’a one baskom ata manga wae na.
Puli hitu, empo Nggaro ngo ndala kole, toe kole manga ngaeng. Kole one sekang empo Nggaro tetel elo manga hang eta wewo meja. Mai empo Nggaro jaong “cai ata teneng hang so’o. Hang di’a ko hang da’at so’o?” laing ca nggitun ngga runing ket lising “cek...cek...cek...”. mai empo Nggaro hang hang so’o.
Sua leso wa ga, empo Nggaro nunduk agu empo Boke. Mai jaong de empo Boke “nuku ket lite”. Wie te telun empo Nggaro nuku cai ata nare hang so’o, tetel empo Nggaro kari ata nare hang so’o wua haju iwo wa diha sili wae mai jiri ine wai molas. Mai empo Nggaro nggape ine wai ho’o. Ri le empo Nggaro “cai hau”. Wale de ine wai “aku wua haju iwo wa dite sili wae mai”. Jaong de empo Nggaro “Eme nggitu ga, hau jiri wina gaku”, wale de ine wai “guri gaku keri, ite porong lut jaong gaku”. Wale de empo Nggaro “jaong ma gau ga”. Jaong de ine wai “ite neka hang nakeng, ceo ta’ong lite?. Wale de empo Nggaro “eng mente gah”.

Laing ca puli kawing empo Nggaro agu ine wai ho’o, empo Nggaro pande sekang eta golo. Laing ca nang wekin winan ho’o ga, empo Nggaro mo ndala nakeng sili wae. Leso ca ngaeng nakeng, rantang haeng le winan na, hang taung sili wae si ne. Cai one sekang, nuing masu nakeng le winan na. Ri le winan “hang nakeng ite rebaong?” wale de empo Nggaro “toe mangan na”. Leso te suan ngo ndala kole, ngaeng nakeng kole, hang kole taung si ne sili wae. Kole one sekang, elo le winan na, manga lucap nakeng one wiwir na. Ri kole le winan “hang nakeng ite robaong?” wale de empo Nggaro “toe mangan na”, mai ket winan ho ala lucap nakeng one wiwir de empo Nggaro. Rei le winan “oe pe lucap nakeng ho’o. Ite rebao hang nakeng”. Ruak wina ho’o. Laing ca nenggitun ga, mai ket wina ho’o ala ruha agu wua ta’al mo sili Warloka lako wa’i, cai sili Warloka gereng liha empo Nggaro, toe tara cai. Ruak wina ho’o, Mai hia weda tana jiri Sermolo. Poli hitu ga lako wa’i kole. Lor lako de wina ho’o mai hia weda kole tana agu oke wua ta’al jiri Giling Banta. Cai lau Sape, dading anak ho’o agu kecak ruha ata wa diha. Ngasang anak na Ama Ka’u. Laing ca puli loas anak ho’o, mai inen ga jaong “hau lami tana masa, aku lami wa tacik”. Laing Ama Ka’u cai one Sape, hia kawing agu anak de Putra Kahir, manga anak dise ga ngasang na Dae Fitri (Almarhum Bupati Bima).


Terjemahan:

Pada zaman dahulu, hiduplah dua orang nenek bernama Kakek Nggaro dan Nenek Boke. Untuk menghidupi keluarga mereka, setiap malam kakek Nggaro menjala ikan di laut. Suatu malam kakek Nggaro pergi menjala, ia tidak mendapatkan ikan tetapi mendapat buah kayu, lalu ia pun membuangnya. Malam kedua kakek Nggaro pergi menjala ikan lagi, tetapi yang didapatnya buah kayu yang dibuangnya pada malam sebelumnya, dia pun membuang buah kayu tersebut. Malam ketiga pun ikan tidak didapati kakek Nggaro, tetapi didapatinya buah kayu yang sama seperti malam sebelumnya. Karena tidak mandapatkan ikan, ia pun membawa buah kayu itu ke rumah, dan disimpan di dalam baskom yang sudah terisi air. Setelah itu Kakek Nggaro kembali untuk menjala ikan, tetapi tidak didapatinya. Ia pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, kakek Nggaro kaget melihat makanan di atas meja. Nenek Nggaro berkata “siapa yang memasak makanan ini. Apakah makanan ini halal atau tidak?”, pada saat itu terdengar suara cecak “cek…cek…cek…”. Kakek Nggaro pun menyantap makanan tersebut.
Dua hari kemudian, kakek Nggaro menceritakan peristiwa tersebut kepada nenek Boke. Nenek Boke berkata “kamu cari tahu saja”. Malam ketiga kakek Nggaro pun mengintip untuk melihat siapa yang menyajikan makanan tersebut. Kakek Nggaro sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Ternyata yang menyajikan makanan itu adalah buah kayu yang dibawanya dari laut yang telah menjelma menjadi seorang wanita cantik. Nenek Nggaro pun memeluk perempuan itu, dan dia bertanya “siapakah engkau?”. Perempuan itu menjawab “saya adalah buah kayu yang anda bawa dari laut”. Kakek Nggaro pun berkata “kalau begitu, kamu harus menjadi istri ku”. Perempuan itu menjawab “saya mau, tetapi ada syaratnya”. Kakek Nggaro berkata “katakanlah”. Perempuan itu berkata “kamu tidak boleh makan ikan. Apa kamu sanggup?”. Kakek Nggaro pun menjawab “baiklah”.
Kakek Nggaro dan perempuan itu hidup bersama dan mereka mendirikan rumah di atas bukit. Pada saat perempuan itu hamil, kakek Nggaro pergi menjala ikan di laut. Pada saat itu, kakek Nggaro mendapatkan ikan. Agar tidak diketahui oleh istrinya, ia pun menghabiskan hasil tangkapannya itu di pantai. Sesampainya kakek Nggaro di rumah, istrinya mencium bau amis. Istrinya bertanya “apakah kamu makan ikan?”. Kakek Nggaro menjawab “tidak”. Hari kedua kakek Nggaro kembali menjala ikan dan didapatinya. Ia pun menghabiskannya di pantai. Sesampainya di rumah, istrinya melihat ada sisa-sisa sirip ikan pada bibir kakek Nggaro. Istrinya bertanya “apakah kamu makan ikan?”. Kakek Nggaro menjawab “tidak”. Istrinya pun mengambil sirip ikan yang masih menempel pada bibir kakek Nggaro dan berkata “ini sirip ikan, pasti kamu makan ikan”. Istrinya marah, pergi mengambil telur dan buah lontar dan meninggalkan rumah menuju ke kampong Warloka dengan berjalan kaki. Sesampainya di Warloka, ia menunggu kakek Nggaro. Tetapi kakek Nggaro tidak kunjung tiba. Istrinya pun marah dan menendang tanah sehingga jadilah Selat Molo. Setelah itu ia pun melanjutkan perjalanannya. Setibanya di suatu tempat, ia kembali menendang tanah sehingga jadilah Giling Banta. Setelah itu, ia pun melanjutkan perjalanannya. Setibanya di Sape, anaknya lahir dan telur yang dibawanya menetas. Nama anaknya Ama Ku’u. ibunya berkata kepada Ama Ku’u “kamu yang menjaga tanah ini, dan saya menjaga laut”. Di Sape, Ama Ka’u menikah dengan anak dari Putra Kahir. Dan mereka memiliki anak yang bernama Dae Fitri.



Nama: Ana Fitriani
SMP Negeri 3 Komodo
Kabupaten Manggarai Barat























Sambutan pada pelantikan O S I S SMPN 3 Komodo Senin, 24 Pebruari 2014



JIWA YANG BESAR VERSUS PIKIRAN YANG BIASA
(Sambutan  pada pelantikan  O S I S SMPN 3 Komodo  )
Senin, 24 Pebruari  2014


Jiwa yang besar akan selalu mendapatkan perlawanan yang kejam dari pikiran yang biasa (Albert Einstein)
Staf Pembina OSIS SMPN 3 Komodo yang saya hormati,
Dewan Guru yang saya hormati,
Staf OSIS periode 2013/2014 yang saya kasihi.
Staf OSIS yang baru periode 2014/2015 yang saya kasihi.
Siswa siswi bsekalian yang saya kasihi dan banggakan

Pertama tama marilah kita angkat hati kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia hidup yang dianugerahkan kepada kita, lebih lebih kesempatan belajar ini. Karunia Tuhan sedang kita alami dalam peristiwa hidup kita. Melalui orang tua dan guru kita juga mendapatkan karunia yang sama termasuk di kesempatan belajar  menjadi manusia berilmu dan berpendidikan yg memahami banyak dan melaksanakan dengan lebih tulus. Puji Tuhan, kita adalah makhluk istimewah yang berakal budi sehingga banyak hal boleh kita pelajari agar kita menjadi manusia yang berilmu, beriman dan bermartabat luhur.
Bapak/ibu pendidik/Pegawai yang saya hormati,
Siswa siswi sekalian yang saya kasihi.
Peristiwa pelantikan O S I S SMPN 3 Komodo periode 2014/2015  siang ini merupakan peristiwa penting dalam  berorganisasi pada lembaga pendidikan ini. Kita tentu sepaham bahwa perlu ada pergantian. Kita diingatkan pula bahwa jabatan, kepercayaan bahkan kekuasaan macam apapun ada batas waktunya. Wajar saja pengurus yang baru  menggantikan pengurus lama yang sudah demisioner. Maka pergantian pengurus, staf baru memberikan sinyal akan adanya semangat baru  dan perubahan akan cara kerja dan kerja sama dalam berorganisasi. Hadirnya dewan guru dalam pelantikan ini hendak mengukuhkan keberadaan O S I S sebagi sebuah organisasi resmi di sekolah  yang sungguh diharapkan bekerja sesuai  anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan  punya komitmen dakam  mendidik manusia dan hidup berorganisasi. Para guru sangat apresiatif terhadap idealism siswa  dalam berorganisasi  sebagai sebuah kesempatan  belajar secara akademis.
Untuk maju dengan mengusung  rencana perubahan perubahan nyata diperlukan idealisme  yang bisa diwujudkan dengan baik. Para guru memahami sungguh akan idealisme anda yang terkesan demikian tinggi melangit. Para guru memahami  sejumlah idealisme di pending karena terlampau besar untuk anda wujudkan. Kami mengertinya sebagai tanda siswa ingin maju baik secara kelompok  maupun secara pribadi.
Dalam berorganisasi, anda harus berhadapan dengan manusia lain sebagai upaya mewujudkan  idealisme anda. Anda tidak dapat bekerja sendiri terlepas dari orang lain. Anda dapat saja berhadapan
Manusia- manusia yang ternyata sama sekali  tidak memiliki idealisme apa pun, manusia yang menerima keadaan apa adanya, manusia yang minimalis yang puas dengan  keadaan yang telah memberikan dia rasa nyaman, manusia  yang tidak mau maju tetapi hanya bisa jalan ditempat  bahkan anda bisa menemukan  manusia yang hanya menjual ide tetapi tidak rela berbuat. Anda tidak mungkin terhindar  dari manusia  yang tidak banyak bermimpi, tidak memiliki idealisme sama sekali, manusia yang tidak dapat berpikir banyak. Manusia yang selalu merasa puas dengan keadaan yang ada walau pun itu sangat minim. Justru pemikiran seperti  itulah  yang sering kali menjadi  tantangan  besar buat anda bahkan berubah menjadi sebuah  perlawanan yang kejam  terhadap pemikiran  besar  yang hendak maju dengan perubahan perubahan  seperti   itu hanya bisa membuat perlawanan dan mendatangkan kekacauan dan keruntuhan dalam berorganisasi. Namun ini bukan sebuah bayangan ketakutan  untuk anda melainkan  anda ditantang dengan pikiran pikiran biasa itu lebih mudah melemahkan atau melumpuhkan semangat berinisiatif. Pada tahap ini boleh dibilang perlawanan yang kejam. Ide-ide cemerlang  terhadap sebuah perubahan dapat saja kandas karena pikiran biasa dari manusia  yang tidak mau maju tetapi hanya pandai mengkritik setiap perubahan.
Osis sebagai satu organisasi sekolah , tempat siswa berkesempatan belajar berorganisasi, perlu memperhatikan visi misi sekolah adalah terwujudnya prestasi akademik, menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan agar menjadi manusia yang cerdas dan bersaing di setiap lini kehidupan.




Sabtu, 14 Maret 2015



“SAYA TIDAK  TAHU”, JAWABAN LUMRAH BAGI SISWA
Oleh : Drs. Matheus Jemalu
Kepala SMP Negeri 3 Komodo Manggarai Barat


Pengalaman ini sungguh  lucu dan mengherankan. Siswa membanting kursi  di kelas, ribut dalam kelas, ketika ditanya tak satu siswa pun mengakuinya. “ Saya tidak tahu “ itu jawaban biasa dikalangan siswa, jawaban yang mudah dan sudah baku keluar  dari mulut siswa. Menurut pandangan mereka, rumusan jawaban yang baku itu akan lebih ampuh terhindar dari sanksi dan rasa malu. Bahkan tertangkap basah pun masih mempunyai keberanian untuk menjawab “saya tidak tahu “ dengan ekspresi wajah terheran –heran . Rumusan yang menyelamatkan! Jawaban yang sama juga terjadi bila kedapatan sedang melempar buah-buahan orang. Ditanya secara perorangan saja sulit jujur apalagi seacara masal dalam satu kelompok besar. Temannya yang lain yang sekelompok beraksi pun dengan mudah tanpa beban akan menjawab “ saya tidak tahu “. Semua siswa memberikan kesan seolah olah sama sekali tidak mengerti akan pertanyaan itu. Saya sempat heran  akan keheranan mereka terhadap hal yang sebetulnya benar dilakukan.
Coba dicermati, mengapa jawaban seperti itu selalu muncul dari mulut siswa. Jawaban klasik itu muncul karena siswa ditanyai. Seandainya tidak ditanyai pada saat tertangkap basah dengan langsung memanggil dan memberikan sanksi ia menjadi siswa penurut karena  ia mengerti atas sanksi yang diterima atas kesalahan  atau pelanggarannya. Kesalahan dan  pelanggaran menurut siswa  tidak boleh dibeberkan karena dia sudah tahun itu. Ketika ditanya, ia akan membelot dengan jawaban “ saya tidak tahu “. Semakin ditanyai semakin  ia berusaha untuk meluputkan diri  dari kesalahan dan pelanggarannya. Ia berjuang untuk menang terhadap sipenanya walaupun penanya menginginkan kejujurannya. Menurut pandangan mereka, dengan bertanya penanya tidak punya pengetahuan apa pun tentang perbuatannya.
     Pertanyaan yang mungkin  sudah terumus dalam benak setiap siswa: “Mengapa harus bertanya? Untuk apa ditanya lagi kalau memang sudah tertangkap  basah? Sudah tahu sendiri masih mau bertanya”. Trik yang keliru bahwa dengan bertanya berarti  siap menerima jawaban yang sudah baku “saya tidak tahu” dengan ekspresi wajah berkerut dan terheran –heran.
Cara lain yang juga tepat adalah langsung memanggil dan meminta pertanggung jawabannya dalam sebuah ruang  yang sedikit jauh dari penglihatan teman-temannya. Dengan sangat jujur siswa tersebut mulai mengklarifikasi perbuatannya dengan lebih detail. Setelah itu siswa dimaksud diberikan sanksi dan dengan penuh kerelaan ia menerima  dan melaksanakannya tanpa keberatan.
Untuk siswa,,kejujuran itu sesuatu yang berat dan memalukan apalagi harus mengakuinya di depan orang lain. Mengakui yang benar saja masih ragu-ragu bahkan tidak berani apalagi yang keliru-salah. Maka kejujuran disembunyian. Siswa tidak berani bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Jujur diidentikan dengan  sanksi yang harus diterima sehingga  sangat sulit mengakui kesalahannya apalagi  harus di depan teman-temannya. Bersikap jujur berarti  menelanjangkan diri sendiri.
Banyak pengalaman membuktikan bahwa Pembina atau guru tidak perlu bertanya hal yang sudah jelas. Kepada seorang . Kepadea seorang siswa yang memanjat tembok saya menanyainya : Benarkah anda yang memanjat tembok tadi siang pada jam istirahat siang? Dengan penuh keheranan siswa itu menjawab’ tapi sya tidak melihat bapak”. Dia tetap bertahan  dengan jawaban yang sama itu.Sulit bagi siswa untuk menjawab ya saya melakukan itu, atau tidak, saya melakukan itu. Dengan jawaban semacam itu sebenarnay dia mengakui perbuatannya. Walaupun saya tetap meyakinkan dia bahwa yang saya tanyakan  itu menyangkut memanjat tembok atau tidak memanjat tembok tetapi dia bersikeras bahwa dia tidak melihat saya. Justru yang dijawab adalah menurut penglihatan dia. Seolah olah kalau dia tidak melihat  dengan mata sendiri berarti itu tidak benar. Termasuk apa yang dilihat orang lain juga tidak benar.
Berdasarkan pengalaman maka saya tidak menanyai namanya. Karena dalam situasi tertentu siswa tidak akan nmenyebutkan namanya yang sebenarnya. Dia akan menyembunyikan namanya dengan menyebutkan nama orang lain untuk dirinya. Apabila menanyai nama berarti siswalangsung berkesimpulan bahwa yang bertanya itu sama sekali tidak mengenalnya.
Dalam peristiwa seperti itu siswa belum mau menjadi dirinya yang sebenarnya paling kurang dengan namanya yang sesungguhnya. Siswa takut dikenali dan takut bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Sikap siswa semacam ini mewakili sebagian manusia bahwa yang unik pada manusia yakni yang jelek dan kurang baik dengan begitu mudah dialihkan  kepada orang lain. Yang kurang, yang jelek yang negative itu bukan dirinya. Manusia mencari yang paling aman dan paling baik untuk dirinya.
     Karena itu, untuk mendapatkan kejujuran siswa perlu disiasati dengan strategi khusus agar siswa bersikap jujur walaupun  tidak dengan kata kata. Siswa perorangan atau kelompok dipanggil langsung diajak bekerja bersama sama. Tidak hanya siswa tetapi juga Pembina.